Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Mei 2012

FF Inspirasi-Ku Cinta Palsu

Pagi yang cerah di Rumah Sakit Bina Sehat. Seorang gadis berambut hitam panjang duduk di kursi taman. Wajahnya pucat, sorot matanya kosong, serta pakaian bewarna biru laut yang membelenggu tubuh mungilnya.

"Hei!" seru seorang lelaki berambut cepak membuyarkan lamunannya. "Pagi-pagi udah ngelamun," lelaki tersebut duduk di sebelahnya.
"Roni?" wanita tersebut kaget lalu menghembuskan nafas berat. "Besok aku operasi. Aku takut sekali," katanya.
"Lila sayang, itu hanya operasi. Kau tidak perlu takut. Apa kau menakutkan sesuatu yang akan membuatmu sembuh?" nasehat Roni.
"Besok kau akan menemaniku, kan?" harap Lila.
Roni menggenggam tangan Lila, "Maaf, aku tidak bisa. Aku...," kata-kata Roni menggantung.
"Kenapa?"
"Aku mendapat beasiswa ke Spain. Nanti sore pesawatnya lepas landas. Maaf, Lil. Aku tahu ini berat bagimu tapi-" kata-kata Roni dipotong oleh telunjuk Lila yang sekarang menempel di bibirnya.

"Aku senang orang yang kusukai dapat meraih cita-citanya. Jangan sia-siakan kesempatan ini! Aku pasti mendukungmu!" senyum bahagia terlukis dari wajah Lila.
"Terima kasih," Roni tersenyum lega. Lila memang berbeda dari gadis lain. Dengan segala keterbatasan dan penyakit yang dideritanya, ia berhasil membuat hati Roni yang gelisah menjadi tenang bak air di sungai.
"Btw, boleh aku minta sesuatu?" tanya Lila.
"Apa sih yang tidak aku berikan untuk pacarku ini?" goda Roni.
"Gombali aku," pinta Lila, "Gombalan tentang angkasa."
"Mm.. For first and last," Roni tersenyum jahil, "Angkasa itu indah kalau ada awan. Seperti hidupku yang indah kalau ada kamu.."
"Lagi-lagi!" seru Lila girang karena hatinya sudah berbunga-bunga.
"Kamu tahu nggak kenapa aku nggak bisa hidup di ruang angkasa?"
Lila menggeleng.
"Karena aku hanya bisa hidup di hatimu."
Lila terkekeh, "Lagi!"


"Apa ya?" Roni berpikir sejenak, "Kamu tahu nggak kenapa astronot melayang-layang di luar angkasa?"
Lila menggeleng.
"Karena kalau melayang-layang di hatimu, aku marah!" kata Roni sok posesif.
"Hihi. Roni, seluas-luasnya angkasa raya ini, tidak akan pernah seluas cintaku untukmu," kata Lila.
Roni mengecup lembut kening Lila. Perasaan bahagia menggelayuti kedua insan ini.

XxXxXxX

"Kerjamu bagus. Mulai sekarang kau bebas dari Lila," kata seorang lelaki berusia senja yang tak lain adalah Ayah Lila.
"Aku tidak enak menyakiti hatinya. Sebagai seorang ayah, Anda termasuk jahat. Tetapi terima kasih untuk donor hatinya. Senang berbisnis dengan Anda," kata Roni.
"Tidak perlu merasa berhutang budi. Cinta yang kau berikan pada anakku sudah membayarnya. Sekarang kau bisa bersama dengan Putri," Ayah Lila tersenyum puas.

XxXxXxX


Roni membuka seonggok amplop merah yang baru saja diberikan oleh Pak Pos.

For My Fake Beloved
Roni

Hai, Roni! Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Aku cuma mau minta maaf karena sudah merenggut kebahagiaanmu. Aku tahu Ayah memberimu donor hati untuk kekasihmu-Putri dan sebagai gantinya kau menemaniku dan mengajariku apa arti kebahagiaan hidup ini sekalipun kau harus meninggalkan kekasihmu. Aku bahagia meskipun menjadi kekasih palsumu dan tak pernah kau cintai. Terima kasih telah memberiku cinta dan semangat hidup meskipun itu hanya sesaat. Semoga kau berbahagia dengan Putri.

Your Fake Beloved
Lila

Roni tersenyum kecut.
"Ada apa, sayang?" tanya Putri yang keluar dari rumah Roni.
"Tidak papa. Ini surat dari kantor," jawab Roni sembari menuntun Putri memasuki rumahnya.

THE END

http://pustakainspirasiku.blogspot.com/2012/05/lomba-ff-mingguan-pustaka-inspirasi-ku.html?spref=fb&m=1

FF Inspirasi-Ku Badai Cinta di Musim Salju

Malam bertambah larut. Orang-orang yang berlalu lalang merapatkan jaketnya. Langkah mereka cepat seolah ingin segera sampai di rumah tercinta dan meminum cokelat hangat untuk menghangatkan tubuh yang diserang salju. Tetapi tidak bagi perempuan bernama Filia. Langkahnya tetap berpijak pada salju yang sama. Berkali-kali ia melihat seluruh pejalan kaki mencari sosok yang tidak ada. Di bawah pohon Sakura, perempuan berambut panjang sepunggung ini gelisah dan gundah juga harap-harap cemas sebab sosok yang ia cari belum ia temukan. Menara jam menunjukkan pukul 10.32 pm yang artinya Filia telah menunggu 3 jam lebih 55 menit. Orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Padahal mereka janji akan bertemu pukul 07.00 pm.Bahkan Filia juga sudah lebih dulu datang. Tetapi mengapa orang yang memintanya datang tak kunjung tiba? Bibirnya menggigil diikuti getaran tubuh mungilnya. Jika bukan karena cinta, apa dia sanggup bertahan dalam dingin ini? Jawabannya 'tidak'. Tidak mungkin ia rela menyakiti dirinya sendiri. Apa ini yang dinamakan cinta? Benar-benar butuh pengorbanan.

"Apa sedang ada badai di kotanya? Shiro, cepat datang," guman Filia. Nafasnya beradu cepat. Pandangannya kabur dan kakinya seakan tak mampu menopang tubuh rampingnya.

Sudah empat bulan Jepang diguncang badai hebat. Filia dan Shiro harus berpisah karena mereka harus mendekam di rumah masing-masing menunggu hingga badai berhenti. Waku berhentinya badai yang sekitar satu jam itu dimanfaatkan untuk membeli bahan makanan. Apalagi, Filia dan Shiro tinggal di kota yang berbeda. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa bertemu?

"Lima belas menit lagi badai datang..! Ayo berlindung..!" teriak seorang polisi membuat seluruh pejalan kaki berhamburan menuju tempat yang aman.

"Lima belas menit? Tidak mungkin. Shiro, di mana kau?" dengan wajah khawatir Filia kembali mencari sosok Shiro. Dingin kembali menusuk tulang rusuknya. "Shiro..," rintihan lirihnya kembali mengingatkannya pada masa lalu. Saat-saat ia dan Shiro bertemu ketika badai melanda kotanya. Filia yang tidak sengaja bertemu Shiro yang sedang mencari tempat tinggal, menawarkan apartemen yang ditinggalinya. Di lantai 17, tepatnya diantara kamar bernomor 157 dan 158, mereka selalu bertemu, berbagi kasih, bercanda ria, lalu tumbuh benih-benih cinta diantara mereka. Di tengah badai salju mereka dipertemukan. Dengan badai sebagai saksi mereka mengucap janji setia. Dan apakah badai akan menjadi kisah terakhir mereka?

Di balik bola mata hazel milik Filia, dilihatnya lelaki yang tengah terengah-engah berlari menuju arahnya. Lelaki yang selama ini ditunggunya-Shiro.

"Maaf, keretanya didelay. HPku juga tidak ada sinyal," kata Shiro menyapu keringat semu.

"A-aku mencintaimu," sekuat tenaga Filia mengatakannya. Nadanya lirih seoalah tenaganya telah habis diserap butiran salju.

Shiro mendekap erat tubuh Filia.

"Satu menit lagi badai datang. Harap segera berlindung..!" teriakan polisi lagi-lagi terdengar.

"Aku tidak peduli. Mau badai datang dan meremukkan tulang-tulangku, aku akan tetap mendekapmu dalam pelukanku. Aku tidak ingin kita berpisah lagi. Aku mencintaimu," kata Shiro lirih.

Filia menutup matanya. Pelukan Shiro benar-benar hangat. Ya, hangat. Menghangatkan hati tetapi ragapun tetap terasa beku. Badai datang menghantam kedua insan ini. Dalam pelukan badai, seolah raga tak mempunyai indra. Dalam pelukan badai, seakan kita akan bersatu selamanya. Dalam dekapan badai juga kita dipertemukan dan dipisahkan. Dan kita akan bertemu di alam yang berbeda.

The End

http://pustakainspirasiku.blogspot.com/2012/05/lomba-ff-mingguan-pustaka-inspirasi-ku.html?spref=fb&m=1

Rabu, 23 Mei 2012

FF Inspirasi-Ku Cinta Palsu

Pagi yang cerah di Rumah Sakit Bina Sehat. Seorang gadis berambut hitam panjang duduk di kursi taman. Wajahnya pucat, sorot matanya kosong, serta pakaian bewarna biru laut yang membelenggu tubuh mungilnya.

"Hei!" seru seorang lelaki berambut cepak membuyarkan lamunannya. "Pagi-pagi udah ngelamun," lelaki tersebut duduk di sebelahnya.
"Roni?" wanita tersebut kaget lalu menghembuskan nafas berat. "Besok aku operasi. Aku takut sekali," katanya.
"Lila sayang, itu hanya operasi. Kau tidak perlu takut. Apa kau menakutkan sesuatu yang akan membuatmu sembuh?" nasehat Roni.
"Besok kau akan menemaniku, kan?" harap Lila.
Roni menggenggam tangan Lila, "Maaf, aku tidak bisa. Aku...," kata-kata Roni menggantung.
"Kenapa?"
"Aku mendapat beasiswa ke Spain. Nanti sore pesawatnya lepas landas. Maaf, Lil. Aku tahu ini berat bagimu tapi-" kata-kata Roni dipotong oleh telunjuk Lila yang sekarang menempel di bibirnya.

"Aku senang orang yang kusukai dapat meraih cita-citanya. Jangan sia-siakan kesempatan ini! Aku pasti mendukungmu!" senyum bahagia terlukis dari wajah Lila.
"Terima kasih," Roni tersenyum lega. Lila memang berbeda dari gadis lain. Dengan segala keterbatasan dan penyakit yang dideritanya, ia berhasil membuat hati Roni yang gelisah menjadi tenang bak air di sungai.
"Btw, boleh aku minta sesuatu?" tanya Lila.
"Apa sih yang tidak aku berikan untuk pacarku ini?" goda Roni.
"Gombali aku," pinta Lila, "Gombalan tentang angkasa."
"Mm.. For first and last," Roni tersenyum jahil, "Angkasa itu indah kalau ada awan. Seperti hidupku yang indah kalau ada kamu.."
"Lagi-lagi!" seru Lila girang karena hatinya sudah berbunga-bunga.
"Kamu tahu nggak kenapa aku nggak bisa hidup di ruang angkasa?"
Lila menggeleng.
"Karena aku hanya bisa hidup di hatimu."
Lila terkekeh, "Lagi!"


"Apa ya?" Roni berpikir sejenak, "Kamu tahu nggak kenapa astronot melayang-layang di luar angkasa?"
Lila menggeleng.
"Karena kalau melayang-layang di hatimu, aku marah!" kata Roni sok posesif.
"Hihi. Roni, seluas-luasnya angkasa raya ini, tidak akan pernah seluas cintaku untukmu," kata Lila.
Roni mengecup lembut kening Lila. Perasaan bahagia menggelayuti kedua insan ini.

XxXxXxX

"Kerjamu bagus. Mulai sekarang kau bebas dari Lila," kata seorang lelaki berusia senja yang tak lain adalah Ayah Lila.
"Aku tidak enak menyakiti hatinya. Sebagai seorang ayah, Anda termasuk jahat. Tetapi terima kasih untuk donor hatinya. Senang berbisnis dengan Anda," kata Roni.
"Tidak perlu merasa berhutang budi. Cinta yang kau berikan pada anakku sudah membayarnya. Sekarang kau bisa bersama dengan Putri," Ayah Lila tersenyum puas.

XxXxXxX


Roni membuka seonggok amplop merah yang baru saja diberikan oleh Pak Pos.

For My Fake Beloved
Roni

Hai, Roni! Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Aku cuma mau minta maaf karena sudah merenggut kebahagiaanmu. Aku tahu Ayah memberimu donor hati untuk kekasihmu-Putri dan sebagai gantinya kau menemaniku dan mengajariku apa arti kebahagiaan hidup ini sekalipun kau harus meninggalkan kekasihmu. Aku bahagia meskipun menjadi kekasih palsumu dan tak pernah kau cintai. Terima kasih telah memberiku cinta dan semangat hidup meskipun itu hanya sesaat. Semoga kau berbahagia dengan Putri.

Your Fake Beloved
Lila

Roni tersenyum kecut.
"Ada apa, sayang?" tanya Putri yang keluar dari rumah Roni.
"Tidak papa. Ini surat dari kantor," jawab Roni sembari menuntun Putri memasuki rumahnya.

THE END

http://pustakainspirasiku.blogspot.com/2012/05/lomba-ff-mingguan-pustaka-inspirasi-ku.html?spref=fb&m=1

Minggu, 05 Februari 2012

Dia atau Diriku

"Hujannya lama banget sih?! Kan gue nggak bisa pulang," ujar Nella dengan sedikit kesal.
"Nggak usah cemberut gitu. Tenang aja. Aku bawa payung kok!" kata Gito sambil merangkul Nella dari belakang.
"Untung loe bawa payung. Yuk pulang!"

Gito mengambil payung di belakangnya dan pulang bersama Nella.

"Hahaha.. Geser sana dong! Gue kehujanan nih!" kata Nella dengan nada bercanda sambil mendorong Gito keluar dari payung.
"Kamu yang seharusnya geser! Aku juga kehujanan tau!" Gito masuk kembali ke payung.
"Salah loe sendiri bawa payung kecil banget."
"Ye.. Udah untung bisa pulang pake payung. Daripada ndekem di sekolahan terus," Gito membela diri.

Tak terasa telah sampai di depan rumah mereka berdua. Yang satu rumahnya megah banget! Yang satunya.. rumahnya biasa-biasa aja tuh!

"Aku anter kamu ya! Apa kita ke rumahku nanti kamu bawa payungku buat pulang?" tanya Gito.
"Mm.. Gue pulang sendiri aja deh!" jawab Nella.
"Pulang sendiri? Nanti buku pelajaranmu basah."
"Jaman gini, masih mikirin buku pelajaran?!" Nella berlari di tengah guyuran hujan. "Gito, Gito, itu elo banget! Hahaha.." Nella berlari menuju rumahnya.
"Nella! Dasar tuh anak. Buku pelajaran itu penting. Belinya juga pake uang. Yah, mentang-mentang anak orang kaya," Gito berjalan menuju rumahnya.

XxXxXxX

Gito dan Nella, dua sahabat yang memiliki latar belakang yang berbeda. Gito itu cowok manis, tinggi, agak keren sih. Meskipun hidupnya sederhana, tapi cewek yang naksir banyak banget tuh! Soalnya ya, otaknya tu encer, polos lagi! Gito dilahirkan dari keluarga yang sederhana + lahir tanpa Ayah. Ia tinggal bersama Ibunya yang kerjanya sebagai penjahit. Sejak 5 tahun yang lalu Nella pindah ke sebelah rumahnya. Nella pindahan dari Jakarta. Karna Ayahnya kerja di Semarang, ia juga pindah ke Semarang. Karna itu kalau ngomong dia pake Gue-Loe. Nella itu cewek ceria nan tomboy dengan rambut sebahu. Tapi dia cantik kok! Yah, meskipun pendek dan sering cabut kalo pelajaran. Mereka bersahabat sejak SMP. Karna satu SMP, mereka sering berangkat dan pulang bareng. Jadi deh, sahabat yang aneh. Gito polos + Nella tomboy.

XxXxXxX

Mentari bersinar dengan indahnya. Nggak kayak kemarin, hujan mulu! Mentari seperti menyembunyikan dirinya. Gito menunggu Nella di ruang tamu rumah Nella. Udah setengah jam nunggu, si Nella nggak keluar dari kamarnya.

"Nella lagi ganti baju. Bentar lagi keluar kok! Yok sarapan bareng!" kata Mama Nella yang perawakannya masih muda kayak bintang film.
"Makasih, Tante. Tapi saya sudah makan kok! Lagipula mau jam 7," Gito udah nggak bisa tenang di tempatnya. Dipaksain buat berangkat, dia pasti juga telat. Nella lama banget lagi! Baru aja 2 minggu masuk SMA, masak dia udah telat?
"Maafkan Nella ya, Gito. Tadi Nella bangunnya kesiangan. Soalnya tadi malem badannya panas banget. Dia nekat sih kemarin hujan-hujanan..," jelas Mama Nella.
"Nella tadi malem sakit?" tanya Gito agak khawatir.
"Iya. Tapi sekarang udah sembuh tuh!"
"Gito..!" Nella berlari menuruni tangga dengan wajah riang. Tak terlihat kalau dia habis sakit.
Nella menghampiri Mamanya. "Ma, berangkat dulu, ya!" katanya sambil mencium tangan Mamanya.
"Kamu nggak makan dulu?"
"Nanti aja! Di sekolah!" Nella menghadap Gito, "Yuk! Cabut!" dan langsung berlari keluar rumah.
"Permisi, Tante," setelah berpamitan pada Mama Nella, Gito langsung berlari menyusul Nella.
"Hati-hati..!" teriak Mama Nella sambil geleng-geleng.

"Nel, pelan-pelan dong!" kata Gito sambil terus berlari mengejar Nella.
"Ayo, Gito! Nanti kita telat hlo.. Loe nggak mau, kan kalo kita sampe telat??" Nella berlari semakin kencang.
"Ya tapi nggak gini juga kale! Mau kamu paksain kita juga bakalan telat..," Gito berhenti. Nafasnya terengah-engah.
Nella berhenti dan menghampiri Gito.
"Ayo dong, Gito. Loe kan cowok. Masak kalah sih ama gue yang cewek?" Nella menepuk pundak Gito.
"Aku nggak kuat. Kamu kan cewek jadi-jadian," Gito masih terengah-engah.
"Apa mau gue gendong? Pendek-pendek gini gue kuat hlo.."
"Mau ditaruh di mana muka aku kalau kamu gendong?"
"Halah.. Berangkat sekolah aja loe mesti nebeng gue.. Gito, Gito, jadi cowok kok nggak bisa naek motor," perkataan Nella seakan-akan mengejek Gito.
"Aku bakalan ngajak cewek aku jalan. Ke gunung, ke sawah, ke mana aja aku bakalan ngajak cewek aku jalan! Kamu lama-lama nyebelin ya!" Gito berjalan dengan wajah kesal.
"Gito, loe kok gitu sih? Gue tadi bercanda kok!" Nella mencoba menjelaskan meskipun Gito terus berjalan tanpa meliriknya sama sekali. "Gue tau loe marah sama gue karna hari ini kita telat. Ini semua mutlak kesalahan gue. Gue minta maaf. Jangan marah ama gue.. Gito, plis maafin gue," kata Nella dengan wajah memelas.
Gito berhenti dengan wajah masih. Diliriknya Nella yang sekarang berwajah penuh harap.
"Kena kau!! Hahaha..," teriak Gito.
Gito langsung berlari meninggalkan Nella yang terpaku di tempatnya.
Nella mengepalkan kedua tangannya dan berlari mengejar Gito. "GITO...!!! Awas loe ya!"


Akhirnya aksi kejar-kejaran yang mereka lakukan menghantarkan mereka sampai ke gerbang sekolah. Gito sudah menggeh-menggeh. Nellapun begitu.
"Ck. Telat!" decak Gito.
"Cabut aja yuk, Git. Hari ini guru piketnya Pak Ramli. Kita bakal jadi ikan pepes..," ujar Nella.
"Kita kan udah jauh-jauh sampai sini.. Mubadzir dong usaha kita."
"Daripada masuk sekolah, lebih baik kita maen PS aja di deket sini.. 2 ribu per jam. Gimana?"
"Mm...," Gito menimang-nimang.
"Ayo dong, Git, cepet mikirnya sebelum ada guru yang tau kita di sini.."
"Tapi motor loe?"

Oh iya! Karna kemaren hujan, Nella ninggalin motornya di sekolahan. Biasanya kan mereka berangkat naek motor.

"Urusan gampang! Nanti pulang sekolah gue ambil," jawab Nella.
"Mm.. Oke!"

Nella langsung menarik tangan Gito.

Seharian mereka main PS. Ini pertama kalinya Gito cabut. Mungkin pertemuannya dengan Nella menjadikannya sedikit lebih nakal. Seperti yang udah mereka rencanain, jam 14.00 mereka mengambil motor Nella yang terpakir di tempat parkir.

"Gito, besok cabut lagi nggak?" seru Nella setelah mengantarkan Gito sampai di depan rumah.
"Nggak! Pelajaranku nanti berantakan," jawab Gito.
"Ya udah deh! Emang dengan belajar bisa mbuat rumah ni jadi mewah?" guman Nella.

Gito memasuki rumah kecilnya. Baru saja masuk ia sudah disambut Ibunya.

"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Hlo, tumben Ibu di ruang tamu. Biasane neng ngarepe mesin jahit," Gito duduk dan melepas sepatunya.
"Tadi kamu cabut sama Nella?" tanya Ibu Gito dengan tatapan menyelidik.
"Ibu jangan salah sangka dulu. Karna tadi aku telat, Nella ngajak cabut. Aku tidak akan mengulanginya lagi," jawab Gito.
"Ibu ora nyalahke kowe apa maneh Nella. Kowe dolan karo cah nakal kuwi yo tak jarke marake prestasimu apik terus. Nanging yen prestasimu mudhun, kowe ngomong apa wae rak bakal tak rungokake (Ibu tidak menyalahkanmu apa lagi menyalahkan Nella. Kamu main sama anak nakal itu Ibu biarkan karena prestasimu bagus. Tapi kalau prestasimu turun, kamu ngomong apa saja tidak akan Ibu dengarkan)," jelas Ibu Gito.
"Halah tho Bu.., Bu. Aku mau krungu Nella ngomong, emang nek sinau isa mbangun omah iki po piye (Aku tadi dengar Nella bilang, emang kalau belajar bisa mbangun rumah ini)?"
"Hush! Ojo ngono, Gito! Kowe ki rak reti, nek kowe pinter kowe bakalan sukses (Jangan begitu, Gito! Kamu tidak tahu, kalau kamu pintar kamu pasti sukses)!"
"Nikah karo Nella aku yo bakalan sukses tho, Bu? Entuk warisane. Haha! (Nikah sama Nella aku juga sukses, kan? Dapat warisannya.)" ujar Gito dengan nada bercanda.
"Kowe ki aeng-aeng wae. Rak sah nghayal!! (Kamu ada-ada aja. Tidak usah menghayal!)"

XxXxXxX


"Sampai..!!" Nella memarkirkan motornya.
"Makasih, Nel," Gito turun dari motor Nella.
"Yo yo yo! Dewe mlebu kelas..!" kata Nella sambil menggandeng atau bisa dibilang menyeret tangan Gito ke kelas mereka yaitu X-7.
Gito agak geli mendengar Nella yang ngomong pake basa jawa.

Setelah sampai ke kelas, Nella menaruh tas di meja dan langsung hilang entah ke mana.

Gito duduk di bangkunya tepatnya di samping Nella. Ia mengeluarkan buku kimia dan membacanya. Nella tiba-tiba datang dan mengambil tasnya dengan tergesa-gesa.
"Gito, gue cabut dulu ya! Nanti kalau ditanya Pak Ramli, bilang gue lagi diare!" Nella langsung menghilang entah ke mana.

Beberapa saat kemudian Pak Ramli-Guru Kimia memasuki kelas dan di sebelahnya ada seorang cewek.

"Pagi, anak-anak," sapa Pak Ramli.
"Pagi, Pak!!"
"Hari ini Bapak bawa murid baru namanya Rima Mutiara. Dia baru saja pindah dari Medan," jelas Pak Ramli.
Rima terus menerus menebar senyum ke seluruh siswa. Wajahnya yang cantik, rambutnya panjang agak kecoklat-coklatan, tubuhnya yang ramping dan juga dia tinggi. Semua cowok langsung menatapnya tanpa berkedip.

"Rima, duduk di samping Gito," suruh Pak Ramli.
"Tapi Pak, ini tempat duduk Nella," sanggah Gito.
"Halah, deknen wae rak tau mlebu. Apa alesane deknen cabut? (Dia aja tidak pernah masuk. Apa alasannya dia cabut?)"
"Diare, Pak," jawab Gito.
"Diare kok rak mari-mari (Diare kok tidak pernah sembuh)."
Gito nggak menyanggah perkataan Pak Ramli.

Rima duduk di samping Gito.
"Rima," Rima mengulurkan tangannya pada Gito dengan malu-malu.
"Gito," entah kenapa hati Gito berdesir saat tangan mereka bersentuhan.

"Kamu pulang naik apa?" tanya Gito pada Rima saat mereka pulang sekolah.
"Jalan," jawab Rima.
"Mau tak temeni?"
Rima mengangguk.

Di jalan mereka terus ngobrol sampai nggak terasa mereka udah sampai di rumah Rima.

"Makasih udah mau nganterin aku," kata Rima.
"Sama-sama, aku pulang dulu."

XxXxXxX

Rima duduk di samping Gito sambil membahas PR matematika yang diberikan Bu Tutik.

"Eh, loe siapa? Kok duduk di sini?" Nella tiba-tiba datang dan langsung membentak Rima.
"Kenalin, aku Rima. Aku baru saja pindah ke sini," Rima ngulurin tangannya.
"Gue nggak butuh uluran tangan loe, ya! Udah, sana pergi dari kursi gue!" bentak Nella.
Rima langsung pindah ke bangku paling belakang.
"Nel, dia tu disuruh Pak Ramli duduk di sini," kata Gito.
"Mau Pak Ramli kek, Presiden kek, ini tetep bangku gue!"
"Kok kamu jadi kayak gini sih?" Gito menyipitkan matanya.
"Ini kan bangku gue! Pinjem PR kimia loe! Gue bisa dibunuh Pak Ramli nih kalo nggak ngerjain."
"Aku bakal minjemin kalau kamu minta maaf sama Rima," Gito menghampiri Rima yang duduk di bangku belakang.
"Maafin Nella ya! Nella itu orangnya baik kok! Mungkin dia lagi datang bulan aja," ujar Gito.
"Nggak papa. Itu kan emang bangkunya dia," kata Rima.
"Thanks," Gito tersenyum pada Rima.
Dari tadi Nella melihat Gito dan Rima dengan pandangan marah.
"Aargh..!" Nella mengambil tasnya dan pergi keluar kelas.

XxXxXxX



 "Jadi, Magnesium pada golongan ke-2 dan periode 2," jelas Pak Ramli.

Jeblak!!

Pintu kelas dibuka dengan ditendang. Nella muncul dari bali pintu tersebut dengan wajah ditekuk.

"Nella, berdiri di depan! Tumben kamu ikut pelajaran saya!" bentak Pak Ramli.
"Terserah Bapak mau ngomong apa gue nggak urus!" Nella balik membentak.
"Nella! Kamu berani sama saya?!"
"Lebih baik Bapak diem! Saya udah capek!" Nella duduk di bangku belakang karna sekarang bangkunya ditempati Gito dan Rima.

Rima tidur sambil menutup wajahnya dengan tas.
"Apalah yang terjadi pada Nella itu?" tanya Rima.
"Nggak tau tuh! Nggak usah dipikirin," Gito tersenyum pada Rima yang artinya 'jangan khawatir'.
"Kenapa si Nella?" Pak Ramli melirik Gito.
"Lagi datang bulan, Pak," jawab Gito.
Pak Ramli melirik Rima di sebelah Gito. "Dasar anak remaja," guman Pak Ramli.

XxXxXxX

"E-eh Nel, aku turunin di sini aja," kata Gito karna melihat Rima jalan sendirian.
"Sampai sekolahan aja ah! Mubadzir kalo sini doang!" Nella ngebut.
"Nel, Nel, pelan-pelan," ujar Gito.
Nella malah tambah ngebut.
Berakhir dengan rem mendadak, mereka sampai di sekolah.

Gito langsung turun dari motor Rima dan..

Huek! Huek!

Gito muntah-muntah nggak jelas.

"Hahaha.. Gito, Gito, mabuk darat loe ya?" Nella tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Gito. "Atau jangan-jangan loe hamil lagi. Hahaha..," tawa Nella bertambah keras.
"Gito, kamu tidak papa?" tiba-tiba Rima datang dengan wajah khawatir.
"Aku nggak papa tapi agak mual. Huek!"
"Tadi aku lihat Nella ngebut banget. Jadi aku naik taksi. Aku takut kamu kenapa-napa," ujar Rima.
Mendengar ucapan Rima, Nella langsung meninggalkan mereka berdua.

XxXxXxX

Malam ini Gito main ke rumah Nella.

Gito duduk di tepi kolam renang.

"Kamu akhir-akhir ini kenapa sih?" tanya Gito.
"Kenapa apanya?" Nella malah balik bertanya sambil menyodorkan segelas jus jeruk pada Gito.
"Kamu kenapa sih, Nel? Cemburu soal kedekatanku dengan Rima?"
"Udah punya temen baru, sahabat lama dilupain," Nella mengaduk jus jeruknya.
"Mm.. Mungkin kita emang nggak sebangku lagi. Itu juga karna Rima. Aku kasihan lihat dia duduk di belakang."
"Kalau gue duduk di belakang loe nggak kasihan?" Nella menyeruput jus jeruknya.
"Tapi lebih baik loe yang di belakang. Hehe.. Tapi kita kan masih berangkat bareng dan pulang-"
"Pulang nggak bareng soalnya loe tiap hari nganterin Rima ke toko buku. Jadi deh gue kayak barang bekas yang nggak kepake lagi."
"Jangan gitu dong! Kamu masih sahabat aku kok!" Gito merangkul Nella.
"Oke oke! Mantan sahabat."
"Kok kamu gitu sih?"
"Loe aja gitu ouk!"
"Tau nggak, aku ngelakuin semua ini buat ndeketin seseorang."
"Serius?! Siapa?" mata Nella berbinar-binar.
"Ini cinta pertamaku. Waktu ulang tahun sekolah nanti, aku bakal nyatain perasaanku ke... Rima. Rima itu orangnya cantik, baik, feminim, halus, lemah-lembut, pokoknya... dia perfect."

Ctar!

Seperti ada petir yang menyambar ulu hati Nella.

"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Nella. "Good luck, men!" Nella memaksakan senyum.
"Thanks, my best pren..," Gito merangkul Nella lagi.

XxXxXxX

Hari ini tepat ulang tahun sekolah di mana Gito akan menyatakan cintanya pada Rima.

"Nel, aku deg-degan," Gito tidak bisa tenang di tempatnya.
"Kasih mawar itu ke dia dan nyatakan perasaan loe," ujar Nella. "Good luck, friend," Nella mendorong tubuh Gito sehingga tepat di depat Rima.

Gito agak grogi berada di hadapan Rima.
"Rim, aku sayang kamu. Mau nggak kamu jadi pacar aku?" tanya Gito to the point sambil menyodorkan bunga mawar merah pada Rima.
"Aku...,"
'Jangan trima, jangan trima' Nella terus melantunkan kalimat tersebut. Hlo?

"Aku juga sayang sama kamu. Aku mau jadi pacar kamu," Rima menerima mawar merah + cintanya Gito.
"Makasih, Rima," Gito langsung memeluk Rima.

Nella langsung berlari  ke luar sekolah. Entah kenapa hujan turun dengan derasnya seolah mengerti perasaan Nella sekarang. Air matanya tiba-tiba turun tanpa diminta. Nella tidak tahu kenapa hatinya terasa sakit saat melihat Gito dan Rima. Tak tahu..

XxXxXxX

"Ma, ajari aku dandan dong!" pinta Nella.
Mama Nella menutup majalah yang dibacanya. Alisnya bertaut. "Dandan? Tumben kamu pingin dandan?" tanya Mama Nella seolah tidak percaya apa yang dikatakan anaknya.
"Iya. Dandan. Aku nggak mau tampil kayak cewek tomboy terus."
"Gito??"
"Ha? Nggak kok. Cuman, aku pingin tampil beda di acara perpisahan kelas. Ajari ya, Ma?"
"Oke deh.. Nggak nyesel Mama ngebiarin kamu deket ama Gito."
"Ini bukan soal Gito kok! Thanks, Mom," Nella memeluk Mamanya.

XxXxXxX

Malam ini akan diadakan perpisahan kelas. Nella sedang berdandan di kamarnya bersama sang Mama.
"Aku lucu nggak sih, Ma?"
Nella memandang dirinya di cermin. Dress pink tanpa lengan, jepit biru di kepala kirinya, soft lensa ungu, sepatu hak 10 cm, dan juga gelang di tangan kirinya.
"Kamu cantik kok, sayang," ujar Mama Nella.
"Aku nanti ditertawain nggak, ya?"
"Mana ada sih, cewek cantik ditertawain?"
Nella menyunggingkan senyum dan berangkat ke pesta perpisahan. Meskipun Nella risih pakai pakaian kayak gitu, tapi ia akan berusaha untuk tampil feminim. Ia tidak ingin menyalahi kodratnya. Nella seorang cewek.

Seletah sampai di cafe tempat perpisahan itu diadakan, seluruh teman-teman sekelasnya langsung terpesona.

"Kamu cantik banget, Nel," ujar Gito dan di sebelahnya ada Rima.
"Iya dong! Dari dulu gue cantik kale..!" Nella menyibakkan rambutnya yang tergerai.
"Nel, kamu tau nggak, minggu depan kelas kita mau ke Gunung Ungaran," ujar Gito penuh semangat.
"So, kita camping gitu?" mata Nella berbinar-binar.
"Jelas dong!"
"Horee..!!" sontak Nella memeluk Gito.
Gito dan Rima memandang Nella dengan heran.
"Eh," Nella melepaskan pelukannya, "maaf ya, Rim."
Rima hanya mengangguk sambil tersenyum.

XxXxXxX

 "Gunung Ungaran I'm coming..!" Nella terus meneriakkan kalimat tersebut selama di bus. Gunung memang tempat yang tepat untuk menyeistirahatkan pikirannya saat ini. Juga sebagai tempat terciptanya sebuah kefeminiman. Nella hari ini pake rok hlo..
Di sebelah Nella ada Gito dan Rima yang sedang asyik pacaran. Sejak berpacaran dengan Rima, Gito agak melupakan dirinya. Atau mungkin memang sudah lupa?? Cepat sekali ya seseorang melupakan sahabatnya.

Akhirnya Rima dan kawan-kawan tiba di tempat camping yang tidak jauh dari Nglimut.
Anak-anak langsung mendirikan tenda. 1 tenda diisi 6 orang.
Gito dan Rima sedang asyik mendirikan tenda. Sambil cekikian, tertawa, siapapun yang melihatnya pasti iri.

"Git, Rim, mau gue bantu?" tanya Nella.
"Mending kamu masak aja. Soalnya temen-temen yang lain lagi ngambil air," kata Rima.
"Oke!"

Nella mengambil nasting (kayak rengkot) dan mulai masak mie dan nasi + telur.

Malam mulai datang. Setelah makan malam, diadakan acara api unggun dan semua anak kembali ke tenda mereka masing-masing.

"Git, besok pagi-pagi buta, jalan-jalan ke atas yok!" ajak Nella.
"Mm.. Gimana, Rim? Kamu mau?" tanya Gito pada Rima yang sedang bersandar di bahunya.
"Di atas pasti dingin," jawab Rima.
"Di sini tuh masih kaki gunung, nggak dingin-dingin bangetlah," ujar Nella sedikit membentak.
"Tapi..," Rima berkata dengan agak ragu.
"Kalau dingin, akan kuhangatkan kau dengan cintaku," kata Gito.
"Huek! Gombal!" Nella berlagak muntah-muntah.
"Benar kata Nella, ini masih di kaki gunung. Nggak bakal dingin," tambah Bayu.
"Ayolah.. Ya? Ya?" kata Nella agak sedikit memaksa.
"Ya udah. Okelah!"
"Yes! Naik gunung..!" seru Nella dengan riangnya.


XxXxXxX

"Git, Rim, katanya mau naek gunung. Yok bangun!" Nella menggoncangkan bahu kedua insan tersebut.

"Huaft..," Gito dan Rima terbangun.
"Ayo cepat cepat!"
Mereka bertiga keluar dari tenda.
"Dingin," ujar Rima.
"Sini kupeluk," Gito memeluk Rima.
"Heeeei!! Kita bukan mau pacaran ya! Kita mau jalan-jalan. Dan loe, manja banget!" Nella menatap tajam mata Rima.
"Nel, jangan kasar sama Rima dong!" bela Gito.
"Gue nggak kasar. Tapi di gunung, nggak dibutuhin anak manja!"
"Udah udah. Maaf Nel, aku emang manja. Aku janji nggak bakal nyusahin kalian," lerai Rima.
"Oke!" Nella mulai berjalan.
"Nggak papa kok, Rim. Si Nella paling lagi datang bulan," Gito menenangkan Rima.
Wajah Rima tampak ragu akan pendakian ini. Hatinya gundah gulana. Dan dari tadi malam Mamanya terus menelepon.

"Waow.. Indahnya..," Nella menghirup udara segar.

"Rim, kamu kenapa??"
Sontak Nella langsung berbalik dan didapatinya Rima seperti orang yang kehabisan nafas. Nella menutup mulutnya dan membelalakkan matanya. Gito terus menerus meneriakkan nama Rima.

"Asma! Gito, bawa Rima ke bawah!" teriak Nella.
Nella segera menghubungi ambulans.

"Rima.. Bertahanlah..," Gito terus melantunkan kalimat tersebut. Di ambulans, di rumah sakit, ataupun menunggu Rima seperti saat ini. Nella terus menangis tanpa henti.

"Bagaimana dokter keadaan anak saya?" tanya Mama Rima setelah dokter keluar dari ruangan tempat Rima dirawat.
"Nyawa anak Ibu tidak bisa tertolong."
Mama Rima langsung tumbang. Tangis Nella bertambah keras. Gito memukul tembok dengan bibir bergetar.

"I-i-i-ini se-semua s-salah-ku. A-ku mi-nta maaf, Om, Tante," ujar Nella di sela-sela tangisnya.

XxXxXxX

Jasad Rima telah masuk ke dalam tanah. Orang tua Rima tidak menyalahkan Nella. Tapi bagaimana dengan Gito?

Camping yang seharusnya bersenang-senang, malah berakhir dengan hilangnya nyawa Rima.

Gito shock berat. Tiap hari kerjaannya murung terus. Untung hari libur. Jadi pelajarannya nggak kacau deh!

Nella berkunjung ke rumah Gito untuk menghibur Gito.

"Gito, dicariin Nella tuh!" seru Ibu Gito. Tapi Gito tidak menjawab. Mungkin suaranya sudah hilang karna sudah 4 hari ia tidak makan.
"Nak Nella langsung masuk ke kamar Gito aja ya! Udah 4 hari Gito nggak makan. Ibu khawatir," pinta Ibu Gito dengan wajah memelas.
"Baik, Bu," Nella bergegas ke kamar Gito.
Pintu kamarnya tak dikunci. Nella langsung masuk. Di meja belajar ada sepiring nasi yang masih utuh.

"Hei, bro!" Nella duduk di sebelah Gito dengan wajah cerianya.
Gito tak merespon.
"Jadi gini nih kalo sahabatnya dateng, didiemin..mulu," Nella berlagak marah.
Gito masih tak merespon. Tatapannya kosong.
"Gito, loe jangan gitu dong! Gue tau gue salah, gue penyebab kematian Rima, gue minta maaf. Rima mati karna ego gue," Nella meneteskan air matanya.
"Tidak ada yang perlu disalahkan. Kematian seseorang adalah takdir. Mungkin usia Rima memang pendek," Gito mulai bicara.
"Tapi.. Tapi.. Seandainya gue nggak maksa dia naik, asmanya nggak bakal kambuh, kan?" tangis Nella pecah.
"Nel, ini tu takdir. Nggak ada yang perlu disalahin," Gito mencengkram bahu Nella, "ini takdir yang harus kita jalani."
"Tapi takdir ini membuat kita semua menjadi terluka."
"Aku lebih terluka jika kamu menyalahkan dirimu sendiri," Gito menatap mata Nella dalam-dalam.
"Rima emang baik. Loe emang pantes jadi pacarnya. Gue nggak pantes sama loe. Loe terlalu baik. Gito, kayaknya tanpa gue sadari gue suka sama loe."
Mata Gito terbelalak.
Rima segera berlari keluar rumah Gito. Pengakuannya tersebut tanpa sadar membuat hatinya terasa lebih sakit.

"Gito, Nella kenapa?" tanya Ibu Gito.
"Ibu, Gito cocok nggak sih sama Nella?"
"Ma, Nella baru aja nyatain perasaan Nella ke Gito," Nella menangis di pelukan Mamanya.
"Itu lebih baik daripada kamu terus memendam perasaanmu, kan?" Mama Nella membelai lembut rambut Nella.

XxXxXxX


"Permisi Tante, Nella ada?" tanya Gito. Wajahnya sudah terlihat ceria.
"Kamu udah ditunggu tuh di kolam renang," jawab Mama Nella.
Gito bergegas ke kolam renang.

"Hlo, kok tampilannya kayak cowok lagi sih?" Gito duduk di samping Nella tepatnya di tepi kolam renang.
"Aku nggak bisa jadi feminim. Aku pingin jadi apa adanya aja," ujar Nella.
"Hlo, gue-elonya ke mana?" Gito tambah heran.
"Masak aku udah 5 tahun di Semarang masih pake logat Jakarta?"
"Rambutmu tambah panjang, ya?"
"Nanti kalau mau masuk sekolah, tak potong lagi. Nggak kerasa ya kita udah kelas 2. Nanti masuk kelas apa, ya?? Kayaknya masuk IPA nggak mungkin deh!"
"Pinginku sih kita sekelas lagi. Ya kalau kamu masuk IPS, aku juga masuk IPS deh!"
"Jangan!" teriak Nella, "tujuan hidup kita beda. Jangan ikuti aku! Aku itu wanita sesat!"
"Hahaha.. Ya nggaklah. Masak aku ngikuti kamu sih?"
"Alhamdulillah..," Nella menghela nafas lega.
"Nel," panggil Gito.
"Hm?"
"Kalau aku bilang aku suka kamu gimana?"
"Caileh.. Paling gue jawabnya nggak."
"Kok pake logat Jakarta lagi?"
"Ye.. Suka-suka gue!"
"Nel, aku suka kamu," Gito menatap lekat-lekat mata Nella.
"Kan aku udah bilang, aku jawab 'NGGAK'!! Mungkin gue pelampiasan loe kali ya!" Nella bangkit dari duduknya.
"Nel," Gito berdiri, "Rima emang baik buat aku. Tapi kamu yang terbaik buat aku. Aku sekarang sadar, kalau sebenarnya tanpa sadar aku suka sama kamu. Bukan cuma suka, tapi cinta!"
"Serius?"
"Sumpah demi langit dan bumi aku cinta kamu!"
"Hahaha..," Nella mendorong Gito hingga tercebur ke kolam renang. "Gue belum selesai ngomong. Gue NGGAK bisa nolak loe! Gito, aku tresna karo kowe..! I love you..!"
"Sialan loe!" Gito menuju tepi kolam renang.
"Hahaha... Enak kan mandi di kolam renang gue?"
"Bantu aku dong!" Gito mengulurkan tangannya.
"No, no! Itu tipuan lama..," Nella geleng-geleng.
"Kamu nggak percaya sama aku? Nanti kalau aku mati kayak Rima gimana? Kolam renangnya dingin," Gito menggetarkan bibirnya.
"Gito, loe nggak papa?" Nella meraih tangan Gito.

Byur!

Mereka berdua tercebur ke kolam renang.
"Hahaha.. Ketipu kau!" Gito tertawa terbahak-bahak.
"Gito..!!"

Akhirnya mereka perang air hingga suara adzan maghrib terdengar.

"Jadi," Gito memulai pembicaraan. Tubuhnya diselimuti handuk warna putih.
"So?" bibir Nella bergetar. Ia berselimut handuk warna biru.
"Aku tresna karo kowe," kata Gito.
"Aishiteru yo," Nella memeluk Gito.

The End..


 

Minggu, 08 Januari 2012

Winter in Semarang


Aku menyusuri sekitar Jalan Pemuda. Aku setengah berlari dan berputar mencari sosok yang ku cari. Melewati beribu serpihan salju. Menajamkan pandanganku dan menerawarang ke langit biru. Memang, beberapa menit yang lalu salju tak jatuh lagi. Digantikan sinar mentari yang remang-remang menemani. Aku masih mencarinya. Mencarinya. Belahan jiwaku.

Flashback

"Ven," panggil Ello. Orang yang telah mencuri hatiku sehingga aku mati dan tidak dapat mencintai orang lain.
"Apa??" aku menoleh. Aku melihat rambut hitam cepaknya terpantul sinar senja. Sekarang mataku tertuju padanya. Padahal dari tadi aku asyik nonton konser Ungu dari atap SMA Negeri 3 Semarang.
"Setahun lagi aku akan ke Spanyol," katanya.
Mataku membulat. "Hlo, Spanyol?!"
"Hum. Ini merupakan awal meraih mimpiku," jawabnya mantap. Tak tersirat keraguan di sinar matanya.
"Itu pasti?? Itu kan masih lama. Kalau jadwalnya berubah?" tanyaku penuh keraguan.
"Aku harap jadwalnya tidak berubah,"
"Berarti kita pisah jauh dong! Oleh-olehi pasta, ya! Ronaldo bawa ke Semarang aja.."
"Kau ini! Padahal kan aku ingin kau sedih," Ello mengobrak-abrik rambutku. Aku tak marah. Itu tanda dia sayang padaku.
"Benar, ya?! Ronaldo bawa pulang ke Semarang??" kataku manja.
"Halah. Ronaldo karo aku kan gantengan aku."
"Uh.. PDnya.. Jelas ganteng Ronaldo-lah.. Kamu tu cowok jelek yang telah mencuri hatiku."
Ya. Ello itu jelek. Jelek banget malah. Kulitnya sawo matang, rambutnya hitam cepak, dan matanya juga hitam. Sukanya pake pakaian hitam. Sama seperti sekarang ini. Ia memakai kaos hitam bergambar tengkorak dan celana pensil hitam. Tapi kok aku bisa suka ma dia, ya? Aneh. Tapi di mataku dia cowok terkeren.
"Hahaha..."
"Biasanya juga kita jauhan," kataku.
"Yo he'e..," ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Berapa hari di Spanyol??"
"Cuma empat tahun. Aku sekolah di sana. Mumpung dapat beasiswa."
Aku menyunggingkan senyum. Senyum senduku. "Lama."
"Haha!! So, winter ngko aku meh neng Spanyol. Dewe ketemuan ning Jalan Pemuda. Jam 2."
"He??" tanyaku tak mengerti.
Ia turun dari atap.
"Mau ke mana?" tanyaku.
"Ke bawah."
Aku tak mengubrisnya. Aku biarkan dia pergi. Aku malah nonton sunset dari atap. Ku kira kita akan bertemu lagi. Tak ku sangka ini pertemuan terakhirku.

End of Flashback


Aku masih berlari kecil. Salju-salju yang bergesekkan dengan kakiku memperlambat gerakanku. Aku masih ingat. Salju pertamaku ku alami bersamanya. Tepatnya dua tahun yang lalu. Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengannya di Tugu Muda. Saat ku menatapnya dan dia menatapku. Udara di sekitarku berubah jadi dingin. Serpihan putih jatuh membasahi rambutku juga rambutnya. Sejak saat itu aku tahu perasaannya padaku. Ya. Dia mencintaiku. Meskipun kita tidak pacaran.

Aku berjalan bersamanya menuju sekolahnya-SMA Negeri 3 Semarang-. Dia mengukir namaku juga namanya di pohon depan sekolah. LOVE. ElLOVEni. Berharap cinta kita kan abadi dengan salju sebagai saksi.

Aku masih berlari. Sudah dua tahun yang lalu Semarang punya musim baru. Winter. Tapi pemerintah tak mau bergerak. Seperti sekarang. Tak ada bus yang menuju Jalan Pemuda. Jadi selama musim salju jarang ada orang berlalu lalang menggunakan motor atau mobil. Seperti sekarang aku harus berjalan dari Genuk ke Balaikota.

Paragon. Aku telah melewatinya. Paragon beda dengan setahun yang lalu. Selain dijadikan mall, Paragon juga dijadikan apartemen yang mempunyai 11 lantai. Bahkan gedung-gedung disebelahnya pun berubah. Semuanya berbau Eropa. Gedung pencakar langit terlihat di kanan kiri.

Aku terus berlari hingga sampai di SMA Negeri 5 Semarang. Aku ingat. Dulu aku benar-benar memimpikan bersekolah di sini. Aku pasti dekat dengan Ello. Tapi apa daya, aku menuruti keinginan orang tuaku dan bersekolah di SMK Negeri 7 Semarang. Sempat ada rasa menyesal. Tapi itu semua lenyap karna sekarang aku dapat beasiswa ke Negeri Sakura-Jepang-.

Tidak jauh dari SMA Negeri 5 Semarang adalah SMA Negeri 3 Semarang yang sekarang menjadi hotel bintang 5. Starhigh Hotel. Hotel itu begitu terang. Aku yakin di dalamnya menyimpan sejuta kehangatan.

Eh, tunggu! Di mana Ello? Kita kan janjian di Jalan Pemuda. Ello bodoh! Jalan Pemuda itu luas! Kenapa aku tidak punya email, nomor, facebook, atau twitter miliknya sih?! Bodoh. Kita itu pasangan yang aneh banget dah!

Tidak jauh dari pandanganku-tepatnya di sebelah Lawang Sewu-aku melihat bus bertuliskan Go to Spanyol dan buldozer pembersih salju. Apa? Apa dia di sana? Apa Ello di sana?? Aku berlari sekencang-kencangnya. Tak peduli keringatku bercampur dengan salju. Tak peduli lelah kakiku. Tak peduli kakiku yang mulai membeku.

"Ello," panggil Lila.
"Ada apa?"
"Busnya mau berangkat."
"Baiklah. Aku akan ke dalam."

Jarakku agak jauh. Tapi aku dengan jelas bisa lihat kalau itu Ello. Ia melangkah menuju bus. Apa? Dia akan pergi? Tanpaku? Tidak. Aku harus menemuinya. Aku memang teledor, bodoh, pelupa, sampai-sampai aku lupa kalau tidak ada bus di Jalan Pemuda. Bodoh. Aku bodoh. Kenapa Ello bisa menyukai orang bodoh sepertiku?? Dia pasti sudah menunggu dua jam. Padahal dua jam itu akan kami gunakan untuk kenangan paling manis. Tapi gagal. Semuanya gagal karnaku. Ello, tunggu!!

Aku melihatnya. Ia sudah naik ke bus. Ello, jangan pergi dulu! Setahun aku tidak bertemu denganmu. Apa kita tidak akan bertemu lagi selama empat tahun?

Tak terasa air mataku jatuh beriringan dengan butiran salju yang mulai turun. Aku takut, Ello. Aku takut kehilanganmu. Tunggu, Ello! Rasakan kalau aku mengejarmu.

Kenapa?? Kenapa kakiku terasa berat dan beku.

Buk

Aku terjatuh. Padahal tinggal sepuluh langkah menuju bis itu. Ello, bantu aku. Kakiku sakit. Aku dari tadi berjalan dari Genuk ke Lawang Sewu.. Huhu.. Apa? Yang bisa ku lakukan hanya menangis.

"Hei!! Kau itu! Kenapa tepar di sini?" tangan berselimut sarung tangan lembut mengobrak-abrik rambutku.
"Aku ingin Ello..," tangisku.
"Hm??"
Orang itu membantuku berdiri hingga aku bisa melihat wajahnya.
"Ello?"

Aku kaget. Wajahnya berubah. Ia jadi lebih putih-meskipun hanya sedikit- dan dia lebih tinggi dibanding aku.

"Cengeng kamu!" ejeknya. Dia langsung memelukku yang masih menangis.
Salju turun semakin deras tapi aku tak merasa dingin. Di sini-di pelukan Ello-terasa hangat. Aku seakan tak ingin melepasnya.
"Kau pulang naik apa?" tanyanya.
"Tidak tau."
"Ku panggilkan taksi, ya!"
"Aku tidak bawa uang karna buru-buru."
"Hah. Kan bisa dibayar di rumah. Yang penting kau pulang."
"Oh. Iya, ya! Tak kira meh mbok bayari."
"Kau itu! Kau pasti lupa janji kita, kan?"
Aku hanya mengangguk.
"Ku panggil kan taksi. Lalu pulanglah. Di luar sangat dingin."
"Maaf."
"Maaf. Aku tidak bisa memelukmu lebih lama lagi. 30 menita lagi pesawatnya landing."
"Terima kasih."
"Aishiteru," katanya.
Debar jantungku semakin cepat. Aku terlalu senang. Ello, terima kasih.
"Aishiteru yo!!"

Ello mempererat pelukannya. Erat. Sangat erat hingga aku sulit bernafas. Ia melepas pelukannya. Mengobrak-abrik rambutku seperti biasa. Dia menelepon taksi. Ya. Aku bodoh. Aku juga lupa bawa ponsel. Hah.. Bodoh.

Ello. Dia akhirnya pergi. Aku bahagia kalau dia bahagia. Good bye. Ganbatte, Ello! Semangat!

Salju menjadi saksi cintaku dan Ello. Karna itulah, I love winter. Meskipun dingin membekukanku, tapi cinta kan menghangatkanku.


Jumat, 25 Februari 2011

Rasa Ini

Rara melihat pesawat terbang yang membawa Sena ke New York. Di temani ayunan yang biasa mereka mainkan.

Rara pulang dengan wajah kusut.
"Ra, dah pulang?? Kenapa kamu tadi nggak ngantar Sena??" tanya Mama Rara.
"Tadi aku 'kan sekolah, Ma," jawab Rara.
"Ya... kamu 'kan bisa bolos dulu. Mama 'kan nggak enak ama Tante Indri,"
"Lagipula, Tante Indri pasti bisa ngerti, kok,"
"Kamu, tu!! Dibilangin ngeyel!"
"Udah lah, Ma..., Rara ke kamar dulu ya!" kata Rara sambil meninggalkan mamanya.
"Anak jaman sekarang! Di bilangin susahnya minta ampun!" kata Mama Rara sabil mengelus dada.

Rara mengunci pintu kamarnya dan menangis semalaman.

~*~

"Tadi malam SMS gua kok nggak dibalas sih??" tanya Asri.
"Gua nggak punya pulsa," jawab Rara.
"Bohong!! Gua cuma nguji kejujuran lu kok! Tadi malam tu, gua nggak SMS lu kale.... Gua tau! Tadi malam, lu pasti nangis, 'kan?? Jujur...! Iya, 'kan??"
"Lu tau aja!"
"Asri gitu lho...!!"

Pulang sekolah...
"Ra, lu pulang duluan aja! Gua ada latihan vokal," kata Asri.
"Ukay. Duluan ya!"  kata Rara.

Rara meninggalkan sekolah. Saat di jalan, ia ditabrak orang dan semua buku yang dibawanya jatuh di jalan.
"Hei!! Dasar orang nggak bertanggung jawab!!" bentak Rara. Orang yang menabraknya pergi begitu saja.
Saat dia sedang mengambil buku-bukunya, ada seorang cowok yang membantunya.
"Makasih," kata Rara sambil tersenyum pada Angga.
"Ni, buku lu!" kata Angga sambil menyodorkan buku pada Rara.
"Iya. Makasih. Lu dari SMA mana??" sambil menerima buku yang diberikan oleh Angga.
"Bukannya kita satu SMA?? Ni buktinya!" sambil melihatkan lengan seragam yang dipakainya.
"Oh, gua kok nggak pernah liat ya??"
"Ya, 'kan di SMA banyak orang. Ngenalin satu-persatu 'kan sulit. Gua termasuk orang yang nggak dikenal,"
"Lu ikut ekstra apa?"
"Sepak bola. Ekstra yang paling dikenal di sekolah 'kan basket,"
"Oh, ya. Kita belum kenalan. Gua Rara. Kalo lu?"
"Gua Angga,"
"Thanks, ya," kata Rara lalu pergi meninggalkan Angga.

~*~

"Eh, Asr, lu kenal yang namanya Angga??" tanya Rara saat makan di kantin sekolah.
"Ra..., kalo manggil gua tu As bukan Asr!" kata Asri.
"Lu kenal nggak?"
"Kelas mana? Nanti gua cari'in!"
"Asr..., gua tanyanya lu kenal pa kagak. Kalo kenal jawab 'ya', kalo kagak jawab 'nggak',"
"Mmm... fifty-fifty. Gua kenalnya Angga anak futsal ma Angga teman sekelas kita,"
"Kalo Angga temen sekelas kita gua kenal!!"
"Apa Angga anak voli? Anak IPS juga ada yang namanya Angga. Atau, Angga Kapten tim basket SMP gua?? Lu milih yang mana?"
"Angga anak sepak bola,"
"Oh, kalo itu gua nggak kenal,"
"Yang tadi? Yang lu bilang anak futsal?"
"Kalo Angga anak futsal gua kenal. Kalo Angga anak sepak bola gua nggak kenal," kata Asri sambil makan mie ayamnya.
"Futsal ma sepak bola tu sama, Asri...!!"
"Beda. Lu katrok sih...! Nggak bisa beda'in sepak bola ma futsal. Nyesel gua, punya temen kayak lu,"
Rara hanya diam. Ia makan bakso dengan perasaan kesal.
"Ya udah, gua kenal. Mang napa??"
Rasa Ini

Rara melihat pesawat terbang yang membawa Sena ke New York. Di temani ayunan yang biasa mereka mainkan.

Rara pulang dengan wajah kusut.
"Ra, dah pulang?? Kenapa kamu tadi nggak ngantar Sena??" tanya Mama Rara.
"Tadi aku 'kan sekolah, Ma," jawab Rara.
"Ya... kamu 'kan bisa bolos dulu. Mama 'kan nggak enak ama Tante Indri,"
"Lagipula, Tante Indri pasti bisa ngerti, kok,"
"Kamu, tu!! Dibilangin ngeyel!"
"Udah lah, Ma..., Rara ke kamar dulu ya!" kata Rara sambil meninggalkan mamanya.
"Anak jaman sekarang! Di bilangin susahnya minta ampun!" kata Mama Rara sabil mengelus dada.

Rara mengunci pintu kamarnya dan menangis semalaman.

~*~

"Tadi malam SMS gua kok nggak dibalas sih??" tanya Asri.
"Gua nggak punya pulsa," jawab Rara.
"Bohong!! Gua cuma nguji kejujuran lu kok! Tadi malam tu, gua nggak SMS lu kale.... Gua tau! Tadi malam, lu pasti nangis, 'kan?? Jujur...! Iya, 'kan??"
"Lu tau aja!"
"Asri gitu lho...!!"

Pulang sekolah...
"Ra, lu pulang duluan aja! Gua ada latihan vokal," kata Asri.
"Ukay. Duluan ya!"  kata Rara.

Rara meninggalkan sekolah. Saat di jalan, ia ditabrak orang dan semua buku yang dibawanya jatuh di jalan.
"Hei!! Dasar orang nggak bertanggung jawab!!" bentak Rara. Orang yang menabraknya pergi begitu saja.
Saat dia sedang mengambil buku-bukunya, ada seorang cowok yang membantunya.
"Makasih," kata Rara sambil tersenyum pada Angga.
"Ni, buku lu!" kata Angga sambil menyodorkan buku pada Rara.
"Iya. Makasih. Lu dari SMA mana??" sambil menerima buku yang diberikan oleh Angga.
"Bukannya kita satu SMA?? Ni buktinya!" sambil melihatkan lengan seragam yang dipakainya.
"Oh, gua kok nggak pernah liat ya??"
"Ya, 'kan di SMA banyak orang. Ngenalin satu-persatu 'kan sulit. Gua termasuk orang yang nggak dikenal,"
"Lu ikut ekstra apa?"
"Sepak bola. Ekstra yang paling dikenal di sekolah 'kan basket,"
"Oh, ya. Kita belum kenalan. Gua Rara. Kalo lu?"
"Gua Angga,"
"Thanks, ya," kata Rara lalu pergi meninggalkan Angga.

~*~

"Eh, Asr, lu kenal yang namanya Angga??" tanya Rara saat makan di kantin sekolah.
"Ra..., kalo manggil gua tu As bukan Asr!" kata Asri.
"Lu kenal nggak?"
"Kelas mana? Nanti gua cari'in!"
"Asr..., gua tanyanya lu kenal pa kagak. Kalo kenal jawab 'ya', kalo kagak jawab 'nggak',"
"Mmm... fifty-fifty. Gua kenalnya Angga anak futsal ma Angga teman sekelas kita,"
"Kalo Angga temen sekelas kita gua kenal!!"
"Apa Angga anak voli? Anak IPS juga ada yang namanya Angga. Atau, Angga Kapten tim basket SMP gua?? Lu milih yang mana?"
"Angga anak sepak bola,"
"Oh, kalo itu gua nggak kenal,"
"Yang tadi? Yang lu bilang anak futsal?"
"Kalo Angga anak futsal gua kenal. Kalo Angga anak sepak bola gua nggak kenal," kata Asri sambil makan mie ayamnya.
"Futsal ma sepak bola tu sama, Asri...!!"
"Beda. Lu katrok sih...! Nggak bisa beda'in sepak bola ma futsal. Nyesel gua, punya temen kayak lu,"
Rara hanya diam. Ia makan bakso dengan perasaan kesal.
"Ya udah, gua kenal. Mang napa??"
 "Ri, gua pingin curhat," kata Rara setibanya ia dan Asri di kamarnya.
"Baru aja kita sampe, malah mau curhat! Nanti dulu, ah! Gua lapar. Bawa'in makanan dong...!! Please...!" kata Asri memelas.
"Tapi, curhatnya sekarang!"
"Ada makanan, bisa curhat,"
Rara mengambil beberapa cemilan.
"Wuih..., banyaknya...," seru Asri.
"Udah puas?"
"Sekarang, lu mau curhat apa?? Coba gua tebak! Lu pasti mau cerita tentang anak futsal itu 'kan??"
"Tau aja! Iya. Gua... kayaknya suka, deh ma dia,"
"Habis ditinggal Sena pergi, pindah ke lain hati,"
"Tapi, perasaan pada Sena tetap ada. Selamanya, perasaan itu 'kan tetap abadi,"
"Lalu?"
"Gua kayaknya juga suka ma Angga,"
"Ikutilah kata hati lu. Karna, hati akan menuntun kita ke jalan cinta kita berada,"
"Iya,"
"Pertimbangkanlah apa yang kau pilih. Jangan tergesa-gesa. Lagipula lu nggak tau 'kan, Sena suka ma lu pa nggak?"
Rara hanya mengangguk.
'Benar juga, gua nggak tau Sena suka ma gua pa kagak,' kata Rara dalam hati.

~*~

Saat Rara bermain ayunan...
Rara bermain dengan wajah sedih seperti ingin menangis.
"Hey!" seru Angga bercucur keringat sambil memegang bola basket.
"Hey!" wajahnya masih terlihat sedih.
"Ra, boleh nggak, gua nemenin lu??" tanya Angga.
"Boleh dong! Nggak ada undang-undang yang ngelarang, kok!" jawab Ara dengan semangat.
"Kok, wajah lu cepet banget berubah sih?"
Rara hanya tersenyum.
Angga meletakkan bola basketnya dan mulai mendorong Rara.
"Lu pasti sedang mikirin cowok yang biasa nemenin lu di sini 'kan?" tanya Angga.
"Angga...!! Udah, deh! Nggak usah ngomongin tentang dia!"
Mereka bermain dalam diam.

Banyak hal, kejadian, dan masa-masa indah yang dialami Rara dan Angga. Tumbuhlah benih-benih cinta di hati Rara.

Saat mereka sedang bermain ayunan...
"Lu mau ngelanjutin ke mana?" tanya Rara setelah mereka dinyatakan lulus.
"Mm... gua mau lanjut kuliah. Kalo lu??"
"Gua pingin lanjut kuliah di New York,"
"New York??"
"Gua dapat beasiswa. Nggak sia-sia perjuangan gua selama ini,"
"New York?? Kenapa harus di sana?? Kenapa nggak di Indonesia aja??"
"Gua pingin ketemu ma seseorang. Gua pingin masti'in perasaan gua. Gua pingin juga jujur tentang perasaan gua,"
"Orang itu..., orang yang biasa nemenin lu di sini 'kan??"
Rara hanya mengangguk.
"Lu suka ma dia, ya? Cinta?? Sejak kapan??"
"Sejak... aku SMP. Aku bukan hanya suka, aku cinta ma dia,"
"Apakah tak ada orang lain yang lu suka??"
"Nggak ada. Mungkin suka tapi hanya sebatas sayang,"
"Siapa?"
"Entahlah. Mungkin suatu hari nanti gua bakal nemu'in orang itu,"
"Gua kira lu udah nemu'in!!"
"Kalo lu, pernah suka ma cewek??"
"Pernah. Kalo nggak pernah, berarti gua nggak normal dong!! He he he...,"
"Siapa?"
 Angga menghentikan ayunan dan berkata, "Mm..., ada deh!! Pokoknya dia cewek,"
"Dah nyoba nembak pa belum??"
"Ya belum lah! Paling gua ditolak!"
"Ya..., dicoba dulu! Gimana lu bisa suka ma dia?"
"Dia nolongin gua saat gua hampir jatuh dan terjatuh. Gua nggak akan pernah ngelupa'in dia meskipun cinta gua nggak pernah gua sampaikan," lalu Angga melanjutkan ayunannya.
"Nolongin lu?"
"Iya. Waktu gua masih kecil,"
"Oh..., pasti wanita itu beruntung!" kata Rara dengan nada kecewa.

~*~
Waktunya Rara pergi ke New York.
"Ra, met jalan ea! Hati-hati di sana! Semoga lu bisa bertemu dengannya! Jangan lupa'in gua ya...!" kata Asri sambil menahan tangis.
"Iya, sayang. Jangan lupa sering-sering ngasih kabar ke mama, ya..?!" kata Mama Rara.
"Iya, Ma. Asr, jaga diri lu baik-baik, ya?! Gua pasti kangen ma lu," kata Rara sambil pergi menuju ke pesawatnya.

'Dia nggak datang. Orang yang ku tunggu nggak datang. Di SMA, rasaku tertinggal. Aku baru sadar, aku tak bisa hidup tanpanya. Aku baru sadar, perpisahan ini menyakitkan, seperti saat aku kehilangan Sena. Tapi, apa daya, ku tak kuasa. Dia tak mencintaiku. Dia mencintai orang lain. Dapatkah ia merasakan bahwa aku menantinya?? Aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kali. Biarlah. Biar ku pendam rasa ini. Rasa yang tercipta untukmu. Angga.' kata Rara dalam hati sambil menahan tangis.

~*~

Pesawat Rara telah lepas landas.

Di ayunan taman...
"Selamat jalan, Rara.... I will always wait you,"

~SELESAI~